HANDOUT METODOLOGI STUDI ISLAM

Oleh : Muhammad Aiz,SH,MH

Pertemuan IX

 

HADITS SEBAGAI SUMBER AGAMA ISLAM

 

Hadits (bahasa arab: الحديث) secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur’an.

Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi).

Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Syu’bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri” (Hadits riwayat Bukhari)

Sanad

Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah

Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Syu’bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW

Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits.

Jadi yang perlu dicermati dalam memahami Al Hadits terkait dengan sanadnya ialah :

  • Keutuhan sanadnya
  • Jumlahnya
  • Perawi akhirnya

Matan

Matan ialah redaksi dari hadits. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah:

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri”

Terkait dengan matan atau redaksi, maka yang perlu dicermati dalam mamahami hadist ialah:

  • Ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan,
  • Matan hadist itu sendiri dalam hubungannya dengan hadist lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang).

Klasifikasi Hadits

Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad, keutuhan rantai sanad, jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan)

Berdasarkan ujung sanad

Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu’ (terangkat), mauquf (terhenti) dan maqtu’ :

  • Hadits Marfu’ adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya)
  • Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu’. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara’id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: “Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah”. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti “Kami diperintahkan..”, “Kami dilarang untuk…”, “Kami terbiasa… jika sedang bersama rasulullah” maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu’.
  • Hadits Maqtu’ adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi’in (penerus). Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: “Pengetahuan ini (hadits) adalah agama, maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu”.

Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi’in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih ( Suhaib Hasan, Science of Hadits).

Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad

Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad, Munqati’, Mu’allaq, Mu’dal dan Mursal. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.

Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi’in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW

  • Hadits Musnad, sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi.
  • Hadits Mursal. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi’in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi’in (penutur2) mengatakan “Rasulullah berkata” tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).
  • Hadits Munqati’ . Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3
  • Hadits Mu’dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut.
  • Hadits Mu’allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: “Seorang pencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan….” tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah).

 

 

 Berdasarkan jumlah penutur

Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad.

  • Hadits mutawatir, adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma’nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat)
  • Hadits ahad, hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain :
    • Gharib, bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur)
    • Aziz, bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan)
    • Mashur, bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.

Berdasarkan tingkat keaslian hadits

Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da’if dan maudu’

  • Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
    1. Sanadnya bersambung;
    2. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
    3. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits .
  • Hadits Hasan, bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
  • Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
  • Hadits Maudu’, bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.

Jenis-jenis lain

Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:

  • Hadits Matruk, yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.
  • Hadits Mungkar, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur.
  • Hadits Mu’allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu’allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma’lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu’tal (Hadits sakit atau cacat)
  • Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan
  • Hadits Maqlub, yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi)
  • Hadits gholia, yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah
  • Hadits Mudraj, yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya
  • Hadits Syadz, Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain.
  • Hadits Mudallas, disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya

 

 Periwayat Hadits

Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni

Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat. Aturan-aturan ini, ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits Utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama, termasuk:

  1. Shahih Bukhari, disusun oleh Bukhari (194-256 H)
  2. Shahih Muslim, disusun oleh Muslim (204-262 H)
  3. Sunan Abu Daud, disusun oleh Abu Dawud (202-275 H)
  4. Sunan at-Turmudzi, disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H)
  5. Sunan an-Nasa’i, disusun oleh an-Nasa’i (215-303 H)
  6. Sunan Ibnu Majah, disusun oleh Ibnu Majah (209-273).

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Al Muwaththa dari Imam Malik. Selain itu, ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut.

 Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi’ah

Muslim Syi’ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw, melalui Fatimah az-Zahra, atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Syi’ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi’ah diklaim memusuhi Ali, seperti Aisyah, istri Muhammad saw, yang melawan Ali pada Perang Jamal.

Ada beberapa sekte dalam Syi’ah, tetapi sebagian besar menggunakan:

  • Ushul al-Kafi
  • Al-Istibshar
  • Al-Tahdzib
  • Man La Yahduruhu al-Faqih

 

 

Pembentukan dan Sejarahnya

Hadits sebagai kitab berisi berita tentang sabda, perbuatan dan sikap Nabi Muhammad sebagai Rasul. Berita tersebut didapat dari para sahabat pada saat bergaul dengan Nabi. Berita itu selanjutnya disampaikan kepada sahabat lain yang tidak mengetahui berita itu, atau disampaikan kepada murid-muridnya dan diteruskan kepada murid-murid berikutnya lagi hingga sampai kepada pembuku Hadits. Itulah pembentukan Hadits.

Masa Pembentukan Al Hadist

Masa pembentukan Hadits tiada lain masa kerasulan Nabi Muhammad itu sendiri, ialah lebih kurang 23 tahun. Pada masa ini Al Hadits belum ditulis, dan hanya berada dalam benak atau hafalan para sahabat saja.

Masa Penggalian

Masa ini adalah masa pada sahabat besar dan tabi’in, dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 H atau 632 M. Pada masa ini Al Hadits belum ditulis ataupun dibukukan. Seiring dengan perkembangan dakwah, mulailah bermunculan persoalan baru umat Islam yang mendorong para sahabat saling bertukar Al Hadits dan menggali dari sumber-sumber utamanya.

Masa Penghimpunan

Masa ini ditandai dengan sikap para sahabat dan tabi’in yang mulai menolak menerima Al Hadits baru, seiring terjadinya tragedi perebutan kedudukan kekhalifahan yang bergeser ke bidang syari’at dan ‘aqidah dengan munculnya Al Hadits palsu. Para sahabat dan tabi’in ini sangat mengenal betul pihak-pihak yang melibatkan diri dan yang terlibat dalam permusuhan tersebut, sehingga jika ada Al Hadits baru yang belum pernah dimiliki sebelumnya diteliti secermat-cermatnya siapa-siapa yang menjadi sumber dan pembawa Al Hadits itu. Maka pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz sekaligus sebagai salah seorang tabi’in memerintahkan penghimpunan Al Hadits. Masa ini terjadi pada abad 2 H, dan Al Hadits yang terhimpun belum dipisahkan mana yang merupakan Al Hadits marfu’ dan mana yang mauquf dan mana yang maqthu’.

Masa Pendiwanan dan Penyusunan

Abad 3 H merupakan masa pendiwanan (pembukuan) dan penyusunan Al Hadits. Guna menghindari salah pengertian bagi umat Islam dalam memahami Hadits sebagai prilaku Nabi Muhammad, maka para ulama mulai mengelompokkan Hadits dan memisahkan kumpulan Hadits yang termasuk marfu’ (yang berisi perilaku Nabi Muhammad), mana yang mauquf (berisi prilaku sahabat) dan mana yang maqthu’ (berisi prilaku tabi’in). Usaha pembukuan Al Hadits pada masa ini selain telah dikelompokkan (sebagaimana dimaksud diatas) juga dilakukan penelitian Sanad dan Rawi-rawi pembawa beritanya sebagai wujud tash-hih (koreksi/verifikasi) atas Al Hadits yang ada maupun yang dihafal. Selanjutnya pada abad 4 H, usaha pembukuan Hadits terus dilanjutkan hingga dinyatakannya bahwa pada masa ini telah selesai melakukan pembinaan maghligai Al Hadits. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab Al Hadits seperti menghimpun yang terserakan atau menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab Al Hadits abad 4 H.

 

 

 

 Kitab-kitab Hadits

Berdasarkan masa penghimpunan Al Hadits

 Abad ke 2 H

Beberapa kitab yang terkenal :

  1. Al Muwaththa oleh Malik bin Anas
  2. Al Musnad oleh As Syafi’i (tahun 150 – 204 H / 767 – 820 M)
  3. Mukhtaliful Hadist oleh As Syafi’i
  4. Al Jami’ oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani
  5. Mushannaf Syu’bah oleh Syu’bah bin Hajjaj (tahun 82 – 160 H / 701 – 776 M)
  6. Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (tahun 107 – 190 H / 725 – 814 M)
  7. Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa’ad (tahun 94 – 175 / 713 – 792 M)
  8. As Sunan Al Auza’i oleh Al Auza’i (tahun 88 – 157 / 707 – 773 M)
  9. As Sunan Al Humaidi (wafat tahun 219 H / 834 M)

Dari kesembilan kitab tersebut yang sangat mendapat perhatian para ‘lama hanya tiga, yaitu Al Muwaththa’, Al Musnad dan Mukhtaliful Hadist. Sedangkan selebihnya kurang mendapat perhatian akhirnya hilang ditelan zaman.

Abad ke 3 H

  • Musnadul Kabir oleh Ahmad bin Hambal dan 3 macam lainnya yaitu Kitab Shahih, Kitab Sunan dan Kitab Musnad yang selengkapnya :
  1. Al Jami’ush Shahih Bukhari oleh Bukhari (194-256 H / 810-870 M)
  2. Al Jami’ush Shahih Muslim oleh Muslim (204-261 H / 820-875 M)
  3. As Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah (207-273 H / 824-887 M)
  4. As Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
  5. As Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi (209-279 H / 825-892 M)
  6. As Sunan Nasai oleh An Nasai (225-303 H / 839-915 M)
  7. As Sunan Darimi oleh Darimi (181-255 H / 797-869 M)
  8. Al Muntaqa oleh Ibnu Jarud (wafat 307 H / 920 M)
  9. Al Musnad Al Humaidi oleh Ali Madaini (161-234 H / 777-848 M)
  10. Al Musnad Al Bazar oleh Al Bazar (wafat 290 H / 905 M)
  11. Al Musnad Baqi bin Mukhlad oleh Baqi bin Mukhlad (131-176 H / 846-889 M)
  12. Al Musnad Ibnu Rahawaih oleh Ibnu Rahawaih (161-238 H / 778-852 M)

Sekumpulan kitab dari nomor 1 s/d 6 ini sering disebut sebagai kutubus sittah (kitab yang enam).

 Abad ke 4 H

  1. Al Mu’jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
  2. Al Mu’jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
  3. Al Mu’jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
  4. Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)
  5. Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233-311 H / 838-924 M)
  6. At Taqasim wal Anwa’ oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)
  7. As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)
  8. Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)
  9. As Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)
  10. Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239-321 H / 853-933 M)
  11. Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)

 Abad ke 5 H dan selanjutnya

  • Hasil penghimpunan

·         Bersumber dari kutubus sittah saja

1.      Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556-630 H / 1160-1233 M)

2.      Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (? – ? H / ? – 1084 M)

·         Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami’ul Masanid oleh Ibnu Katsir (706-774 H / 1302-1373 M)

·         Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami’ush Shaghir oleh As Sayuthi (849-911 H / 1445-1505 M)

  • Hasil pembidangan (mengelompokkan ke dalam bidang-bidang)

·         Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :

1.      Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)

2.      As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384-458 H / 994-1066 M)

3.      Al Imam oleh Ibnul Daqiqil ‘Id (625-702 H / 1228-1302 M)

4.      Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (? – 652 H / ? – 1254 M)

5.      Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M)

6.      ‘Umdatul Ahkam oleh ‘Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H / 1146-1203 M)

7.      Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675-744 H / 1276-1343 M)

·         Kitab Al Hadits Akhlaq

1.      At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)

2.      Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)

  • Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadist)

1.      Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M)

2.      Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam Nawai (631-676 H / 1233-1277 M)

3.      Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu’allim oleh Al Maziri (wafat 536 H / 1142 M)

4.      Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani (wafat 1250 H / 1834 M)

5.      Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan’ani (wafat 1099 H / 1687 M)

  • Mukhtashar (ringkasan)

1.      Untuk Shahih Bukhari diantaranya Tajridush Shahih oleh Al Husain bin Mubarrak (546-631 H / 1152-1233 M)

2.      Untuk Shahih Muslim diantaranya Mukhtashar oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)

  • Lain-lain

1.      Kitab Al Kalimatul Thayyib oleh Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M) berisi Al Hadits Qudsi

2.      Kitab Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M) berisi Al Hadits yang dipandang shahih menurut syarat Bukhari atau Muslim dan menurut dirinya sendiri.

 Beberapa istilah dalam ilmu hadits

Berdasarkan siapa yang meriwayatkan, terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain:

  • Muttafaq Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim
  • As Sab’ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah
  • As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal
  • Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim
  • Al Arba’ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim
  • Ats Tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah.

 

Sumber :Wikipidea Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IJTIHAD SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

 

Ijtihad (Arab: اجتهاد) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam.

Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.

Fungsi Ijtihad

Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detil oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari.

Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist.

Jenis-jenis ijtihad

 Ijma’

Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati.

Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.

Qiyâs

Beberapa definisi qiyâs’ (analogi)

  •  
    1. Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik persamaan diantara keduanya.
    2. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu persamaan diantaranya.
    3. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam Al-Qur’an atau Hadis dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (iladh).

Istihsân

  • Beberapa definisi Istihsân
    1. Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih), hanya karena dia merasa hal itu adalah benar.
    2. Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya
    3. Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat orang banyak.
    4. Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan.
    5. Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya…

Mushalat murshalah

Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskhnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan.

Sududz Dzariah

Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentinagn umat.

Istishab

Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya.

Urf

Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis.

 

Sumber : Wikipedia Indonesia

 
 
TAQLID DAN IJTIHAD                              
Beberapa Pengertian Dasar            
Oleh KH. Ibrahim Hosen
 
1. IJTIHAD
 
Tulisan ini akan mendahulukan masalah ijtihad, baru kemudian menyoroti  masalah  taqlid.  Minimal  ada tiga alasan kenapa lebih mendahulukan ijtihad daripada taqlid.
 
1. Sekedar mengikuti kelaziman, dimana dalam buku-buku Ushul Fiqh, masalah ijtihad selalu lebih dahulu dibicarakan sebelum masalah taqlid.
 
2. Taqlid tidak akan ada tanpa ijtihad. Dengan demikian seseorang hanya dibenarkan bertaqlid kepada mujtahid yang mu'tabar.
 
3. Persoalan taqlid akan lebih mudah dipahami jika seseorang telah memahami persoalan ijtihad.
 
Dalam tulisan ini saya hanya akan  bicara  tentang  beberapa aspek  ijtihad  dan taqlid yang dipandang penting;mengingat kedua masalah itu  amat  sering  diperbincangkan,  disamping banyaknya  buku  yang  mengupas  masalah tersebut yang mudah kita temukan.
 
PENGERTIAN IJTIHAD
 
Menurut bahasa, ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk  mengerjakan  sesuatu yang sulit." Atas dasar ini maka tidak  tepat  apabila  kata  "ijtihad"  dipergunakan   untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan.
 
Pengertian  ijtihad  menurut  bahasa  ini  ada  relevansinya dengan pengertian  ijtihad  menurut  istilah,  dimana  untuk melakukannya  diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu  (ijtihad)  dilakukan  sembarang orang.
 
Dan  di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. Mereka memberikan batasan  bahwa  ijtihad adalah  "penelitian  dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah  dan  Sunnah  Rasul,  baik yang  terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma'qul nash), atau yang terdekat itu  diperoleh  dari maksud  dan  tujuan umum dari hikmah syari'ah- yang terkenal dengan "mashlahat."
 
Dalam kaitan pengertan  ijtihad  menurut  istilah,  ada  dua kelompok  ahli  ushul  flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas- yang mengemukakan rumusan  definisi.
Dalam  tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad
menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas.
 
 
 
 
Menurut   mereka,   ijtihad   adalah   pengerahan    segenap kesanggupan  dari  seorang  ahli  fxqih  atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap  sesuatu  hukum syara' (hukum Islam).
 
Dari  definisi  tersebut  dapat  ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
 
1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam
   (faqih), bukan yang lain.
 
2. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i,
   yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku  dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i'tiqadi atau
   hukum khuluqi,
 
3. Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah
   dhanni.
 
Jadi apabila kita konsisten dengan definisi  ijtihad  diatas maka  dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum.  Dalam  hubungan  ini komentator    Jam'u   'l-Jawami'   (Jalaluddin   al-Mahally)
menegaskan, "yang dimaksud ijtihad adalah  bila dimutlakkan
maka  ijtihad  itu  bidang  hukum  fiqih/hukum furu'.(Jam'u
'l-Jawami', Juz II, hal. 379).
 
Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak  yang mengatakan  bahwa  ijtihad  juga  berlaku  di bidang aqidah.
Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori  al-Jahidh, salah seorang tokoh mu'tazilah. Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di  bidang  aqidah.  Pendapat  ini  bukan  saja menunjukkan   inkonsistensi  terhadap  suatu  disiplin  ilmu (ushul  fiqh),  tetapi   juga   akan   membawa   konsekuensi pembenaran  terhadap  aqidah non Islam yang dlalal. Lantaran itulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa  ijtihad  hanya berlaku    di    bidang    hukum    (hukum   Islam)   dengan ketentuan-ketentuan tertentu.
 

MEDAN IJTIHAD

Di atas telah ditegaskan  bahwa  ijtihad  hanya  berlaku  di bidang  hukum. Lalu, hukum Islam yang mana saja yang mungkin untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku  di  dunia  hukum (hukum Islam) secara mutlak?
 
Ulama  telah  bersepakat  bahwa  ijtihad  dibenarkan,  serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir, dan akan  membawa  rahmat  manakala  ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan  dan  dilakukan  di  medannya  (majalul ijtihad). Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah:
 
1. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh
   nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas.
 
2. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh
   ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin.
 
3. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang
   diperselisihkan.
 
4. Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas
   hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid).
 
Jadi, kalau kita akan melakukan reaktualisasi  hukum  Islam, disinilah   seharusnya  kita  melakukan  terobosan-terobosan baru. Apabila ini yang kita lakukan dan  kita  memang  telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak.
 
Sebaliknya  ulama  telah  bersepakat  bahwa  ijtihad   tidak berlaku atau tidak dibenarkan pada:
 
1. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau
   Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah), yang
   dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau
   "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah."
   
   Atas dasar itu maka muncullah ketentuan, "Tidak berlaku
   ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan  berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas."
   
   Bila kita telaah, kaidah itulah yang menghambat aspirasi
   sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam   qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an.
 
 
2. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama.
 
3. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli
   'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat
   dicerna dan diketahui mujtahid).
 
Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas, demikian juga ijtihad akan gugur  dengan  sendirinya  apabila  hasil  ijtihad  itu berlawanan  dengan  nash.  Hal  ini  sejalan  dengan kaidah,"Tidak ada ijtihad dalam melawan nash."
 

PERBEDAAN YANG DITOLERIR

Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat  dianjurkan  oleh  Islam. Banyak  ayat  al-Qur'an  dan  Hadits  Nabi  yang menyinggung masalah ini. Islam bukan  saja  memberi  legalitas  ijtihad, akan   tetapi  juga  mentolerir  adanya  perbedaan  pendapat sebagai hasil ijtihad. Hal ini antara  lain  diketahui  dari Hadits Nabi yang artinya,
 
"Apabila  seorang  hakim  akan  memutuskan  perkara, lalu ia melakukan  ijtihad,  kemudian  ijtihadnya  benar,  maka   ia memperoleh   dua   pahala   (pahala   ijtihad   dan   pahala kebenarannya). Jika hakim akan memutuskan  perkara,  dan  ia berijtihad,   kemudian   hasil  ijtihadnya  salah,  maka  ia mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya)." (Riwayat  Bukhari Muslim).

 

Sumber : Yayasan Paramadina

 

Cara ber-Ijtihad

Dalam melaksanakan ijtihad, para ulama telah membuat methode-methode antara lain sebagai berikut :

a. Qiyas = reasoning by analogy. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur’an / as-Sunnah, karena ada sebab yang sama. Contoh : Menurut al-Qur’an surat al-Jum’ah 9; seseorang dilarang jual beli pada saat mendengar adzan Jum’at. Bagaimana hukumnya perbuatan-perbuatan lain ( selain jual beli ) yang dilakukan pada saat mendengar adzan Jum’at ?  Dalam al-Qur’an maupun al-Hadits tidak dijelaskan. Maka hendaknya kita berijtihad dengan jalan analogi. Yaitu : kalau jual beli karena dapat mengganggu shalat Jum’at dilarang, maka demikian pula halnya perbuatan-perbuatan lain, yang dapat mengganggu shalat Jum’at, juga dilarang. Contoh lain : Menurut surat al-Isra’ 23; seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Maka hukum memukul, menyakiti dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang, atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. Karena sama-sama menyakiti orang tua. Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut. Yaitu ketika ‘ Umar bin Khathabb berkata kepada Rasulullah saw : Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran, saya telah mencium istri, padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. Tanya Rasul : Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang berpuasa ? Jawab ‘Umar : tidak apa-apa. Sabda Rasul : Kalau begitu teruskanlah puasamu

b. Ijma’ = konsensus = ijtihad kolektif. Yaitu persepakatan ulama-ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. Ketika ‘Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah tentang kemungkinan adanya sesuatu masalah yang tidak dibicarakan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, maka Rasulullah mengatakan : ” Kumpulkan orang-orang yang berilmu kemudian jadikan persoalan itu sebagai bahan musyawarah “. Yang menjadi persoalan untuk saat sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma tersebut, karena ummat Islam sudah begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya.

c. Istihsan = preference. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain. Oleh para ulama istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi ( analogi samar-samar ) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekannya. Dasar istihsan antara lain surat az-Sumar 18.

d. Mashalihul Mursalah = utility, yaitu menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at. Perbedaan antara istihsan dan mashalihul mursalah ialah : istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahan ( kebaikan ) itu dengan disertai dalil al-Qur’an / al-Hadits yang umum, sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang secara tertulis exsplisit dalam al-Qur’an / al-Hadits.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH                
Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme
 
oleh Jalaluddin Rakhmat
 
KEGAGALAN SKRIPTURALISME
 
Keyakinan bahwa kesetiaan pada teks al-Qur'an dan hadits cukup
untuk memecahkan persoalan  ternyata  hanya  simplikasi.  Pada
saat  yang  sama, menurut Fazlur Rahman, "since the leaders of
these movements  were  interested  in  negating  some  of  the
influences  of the medieval school of islamic thought and law,
they  inevitably  took  a   negative   attitude   toward   the
intellectual  and  spiritual developments that had taken place
in the intervening centuries" (Rahman, 1981:26).
 
Ada beberara kegagalan skripturalisme. Pertama, dalam  aqidah.
Karena  skriptualisme  menerima teks-teks al-Qur'an dan hadits
dengan apa adanya, mereka menetapkan keharusan  percaya  bahwa
Ia  turun  ke langit dunia, mengobrol dengan ahli surga, duduk
di atas 'arasy, tertawa dan sebagainya. Dengan menolak ta'wil,
mereka  telah  mematikan telaah filosofis. Filsafat bukan saja
dijauhi,  tetapi  juga  dikafirkan.  Wacana  teologi   menjadi
gersang.
 
Kedua,  skriptualisme  menyingkirkan  pengalaman mistikal dari
kehidupan beragama. Kaum sufi, yang  mencoba  menangkap  makna
batiniyah  dari  nash-nash,  dianggap  sesat.  Praktek-praktek
keagamaan yang tidak secara spesifik ditunjukkan  dalam  nash,
dianggap  bid'ah.  Selanjutnya, yang disebut bid'ah adalah apa
saja yang tidak merujuk  pada  dalil  yang  telah  dipilihnya.
Qunut  pada  shalat  Subuh,  membaca  dzikir  bersama, membaca
shalawat kepada Nabi saw, mengucapkan doa yang tidak  ma'tsur,
--dan  di  Indonesia--  menyelenggarakan  upacara tahlilan dan
marhabanan dianggap  tidak  mengikuti  sunnah  Rasulullah  saw
(dalam  bahasa orang awam, tidak ada contohnya dari Nabi saw).
Padahal, saya kira, bukan tidak mengikuti sunnah, tetapi tidak
berdasarkan dalil yang disetujui mereka. Tidak ada maksud saya
--dan bukan tempatnya  di  sini--  untuk  merinci  dalil-dalil
orang-orang yang mempraktekkan upacara-upacara agama tersebut.
Dengan  menyingkirkan  mistisisme,  kaum  skripturalis   telah
menghilangkan pengalaman beragama (religious experiences) yang
emosional. Para pengikutnya tidak lagi "menikmati"  agama  dan
sebagian mengalami ketidakpuasan rohaniah.
 
Ketiga,  skripturalisme,  karena  menolak  wacana intelektual,
mudah mendorong orang ke arah  fanatisme.  Madzhab  yang  lain
akan  dianggap  menyimpang  dari  al-Qur'an  dan sunnah. Dalam
skala  makroskopis,  paham  ini  melahirkan  orang-orang  yang
wawasannya    sempit,    tapi   merasa   faqih.   Pada   tahap
institusional, orang-orang awam tidak merasa perlu lagi dengan
kehadiran fuqaha. Bukankah segala persoalan dapat diselesaikan
dengan  merujuk  pada  dalil-dalil   al-Qur'an   dan   hadits.
Muncullah  para  "mujtahid"  yang tidak berkualifikasi. Mereka
membentuk kelompok-kelompok, yang  memuncak  pada  fragmentasi
umat.
 
Keempat,   skripturalisme  terbukti  tidak  menjawab  berbagai
masalah kontemporer. Salah  satu  contoh  adalah  perbincangan
tentang  zakat  profesi  atau  pekerjaan-pekerjaan  yang tidak
diwajibkan zakat padanya. Sebagian di antara  mereka  akhirnya
menggunakan  qiyas  juga,  tetapi tanpa aturan yang konsisten.
Sebagian kaum  modernis  di  Indonesia,  yang  menolak  qiyas,
menggunakannya  dalam  menjelaskan  zakat  profesi.  Ada  yang
mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian; zakat  emas
dan perak; dan zakat perdagangan.
 
Terakhir,  kelima,  skripturalisme  tidak  dapat menyelesaikan
kemusykilan-kemusykilan yang terjadi ketika melakukan istidlal
(memberikan   dalil-dalil  hukum)  dari  nash-nash.  Al-masail
al-lafzhiyah --seperti makna lughawi, makna 'urfi (kebiasaan),
makna  haqiqi  dan majazi, makna 'am dan khash dan sebagainya;
mukhtalaf al-hadits; penentuan keshahihan hadits; qawaid ushul
al-fiqh   dan   masalah-masalah  lain  yang  berkaitan  dengan
penafsiran nash tidak mendapat perhatian.
 
Akibat  kegagalan   skripturalisme   tersebut,   orang   tidak
memberikan solusi terhadap segala kemusykilan ini. Tulisan ini
hanya ingin mengingatkan kita akan pentingnya penilaian kritis
terhadap  pendekatan pada fiqh. Kritik terhadap skripturalisme
sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela liberalisme.  Pada
gilirannya,  liberalisme  juga sangat rentan terhadap berbagai
problem. Melalui studi kritis terhadap  keduanya,  kita  dapat
merumuskan kaidah-kaidah baru dalam menegakkan fiqh yang lebih
relevan dan signifikan.
 
6. FIQH KAUM PEMBARU: MADZHAB LIBERALISME
 
Seperti telah disebut di atas, para pembaru mencoba  mendobrak
stagnasi  dengan  melakukan  salah satu di antara dua pilihan.
Mereka kembali  secara  ketat  pada  teks-teks  al-Qur'an  dan
al-hadits  atau  mereka  berusaha  menemukan ruh atau semangat
dari ajaran al-Qur'an dan al-hadits. Yang pertama  kita  sebut
skripturalisme  (sudah dibicarakan) dan kedua, karena berusaha
secara  bebas  untuk   menggunakan   penalaran,   kita   sebut
liberalisme.  Walaupun  saya  tidak  akan membahas pokok-pokok
pikiran kaum liberal Islam  seperti  yang  dipaparkan  Leonard
Binder, saya akan mengutip deskripsinya tentang kaum liberalis
Islam.
 
For Islamic liberals, the language of the Qur'an is coordinate
with  the  essence  of  revelation,  but  the  content and the
meaning of revelation is not  essentially  verbal.  Since  the
words  of the Qur'an do not exhaust the meaning of revelation,
there is a need for an effort at understanding which is  based
on  the  words, but which goes beyond them, seeking that which
is represented or revealed by language.
 
Jadi ciri khas kaum  liberalis  ialah  upaya  untuk  menangkap
esensi   wahyu;   makna  wahyu  di  luar  arti  lahiriah  dari
kata-kata. Mereka bersedia meninggalkan makna lahir dari  teks
untuk  menemakan  makna  dalam dari konteks. Di bawah ini saya
akan mengulangi lagi  akar  pemikiran  kaum  liberalis  dengan
mengutip  apa yang pernah saya tulis pada pengantar buku Islam
dan tantangan Modernitas. Setelah itu, secara khusus kita akan
mengambil  contoh  pemikiran  Ibrahim  Hosen dan Fazlur Rahman
untuk  menggambarkan  pokok-pokok  pemikiran  kaum  liberalis.
Seperti biasa, pada akhirnya saya akan mengajukan kritik.
 
SEJARAH MADZHAB LIBERALISME
 
Fiqh  kaum  liberal  dapat dilacak pada madzhab ahl al-ra'y di
kalangan para sahabat Nabi. Fiqh  al-ra'y  sebenarnya  sejajar
dengan  tafsir  al-Qur'an  bi  al-dirayat, tapi kaum liberalis
modern justru mengambil inspirasi dari tafsir  bi  al-ma'tsur.
Karena  itu,  sesudah mengutip sejarah ijtihad bi al-ra'y saya
akan mengutip juga perkembangan tafsir bi al-ma'tsur.
 
TRADISI IJTIHAD BI 'L-RA'Y
 
Ketika  [brahim  Hosen   berbicara   tentang   ta'aqquli   dan
ta'abbudi,  dan  ketika Rahman mengulas pemikiran modernis dan
fundamentalis,   keduanya   menggaungkan   kembali   perbedaan
pendapat para sahabat tentang sunnah Rasullah saw. Apakah Nabi
Muhammad  saw  berijtihad?   Banyak   para   sahabat   membagi
perintah-perintah   Nabi  ke  dalam  dua  bagian.  Yaitu  yang
berhubungan dengan ibadah ritual (kelak disebut  huquq  Allah)
dan  yang  berhubungan  dengan  masalah-masalah  sosial (kelak
disebut huquq al-'ibad). Mereka menerima yang  pertama  secara
ta'abbudi, dan yang kedua secara ta'aqquli. Pada bagian kedua,
Rasulullah saw sering berijtihad; ijtihadnya boleh jadi  benar
atau  salah.  Karena  itu,  di  sini para sahabat tidak merasa
terikat dengan sunnah. Bukankah Nabi mengatakan,  "Kamu  lebih
tahu urusan duniamu?"
 
Bukhari  meriwayatkan  peristiwa  yang oleh Ibn 'Abbas disebut
sebagai  "tragedi  hari  Kamis".  Dalam  keadaan  sakit,  Nabi
menyuruh  sahabatnya mengambil dawat dan pena untuk menuliskan
wasiatnya. "Dengan ini kalian  tidak  akan  sesat  selamanya"'
kata  Nabi. Umar berkata, "Nabi saw dalam keadaan sakit parah.
Di tangan kalian ada kitab Allah.  Cukuplah  buat  kita  kitab
Allah  itu."  Tampaknya  Umar  berpendapat bahwa kondisi sakit
Nabi melahirkan ijtihad Nabi yang tidak perlu diikuti.
 
Para  ahli  hadits  meriwayatkan  berbagai  peristiwa   ketika
ijtihad   Nabi   berbeda   dengan  ijtihad  'Umar;  dan  Allah
membenarkan ijtihad 'Umar. Nabi menginginkan agar para tawanan
Badar  dibebaskan  dengan tebusan, sedangkan 'Umar mengusulkan
untuk membunuh mereka. Nabi hendak menshalatkan 'Abdullah  ibn
Ubayy,  tapi  Umar  melarangnya.  Dalam kasus-kasus ini, wahyu
selalu turun membenarkan Umar. Diriwayatkan  bahwa  Nabi  saw,
disertai  Abu  Bakar  pernah  menangis  terisak-isak menyesali
kekeliruan ijtihadnya. 'Umar bertanya: "Apa  yang  menyebabkan
Anda  dan  sahabat Anda menangis? Kalau ada sesuatu yang patut
aku tangisi, aku akan menangis. Kalau tidak ada tangisan,  aku
akan  berupaya  menangis seperti tangisan Anda." Nabi kemudian
menceritakan  tentang  wahyu   yang   membenarkan   Umar   dan
menyalahkan  Nabi.  "Seandainya azab turun," kata Nabi, "tidak
akan ada yang selamat kecuali Umar ibn Khaththab."
 
Hadits-hadits  di  atas  --walaupun  keabsahannya  harus  kita
teliti  secara kritis-- merupakan justifikasi terhadap peluang
menggunakan ra'yu dalam menghadapi sunnah (yang  berasal  dari
Ijtihad  Nabi). Ketika Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan
Usamah, padahal Nabi  memerintahkan  mereka  untuk  berada  di
dalamnya,  Ibn  Abi  al-Hadid  membenarkan  kedua sahabat itu.
"Sesungguhnya Nabi saw  mengirimkan  pasukan  itu  berdasarkan
Ijtihad   dan   bukan   berdasarkan   wahyu   yang  diharamkan
membantahnya."
 
Karena  Umar  adalah  primadona  dari  kelompok  pertama  para
sahabat  ini,  kemudian  kita  pun  menyebut madzhab pemikiran
mereka sebagai madzhab Umari.  Sebagai  lawan  mereka  --dalam
pemikiran--   adalah   madzhab   Alawi,   yang   terdiri  atas
sahabat-sahabat yang berkumpul di sekitar Ali ibn Abi  Thalib.
Mereka  tidak  membedakan huquq al-'ibad dan huquq Allah dalam
instruksi-instruksi Nabi  yang  bernilai  tasyri'.  Tidak  ada
ijtihad  Nabi.  "Ia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya,
tetapi ia hanya berbicara berdasarkan  wahyu  yang  diturunkan
kepadanya." (QS 53:3).
 
Ketika  Umar dan Utsman --pada zamannya masing-masing melarang
haji  tamattu"  Ali  menentangnya.  Ibn  Katsir,  dalam  kitab
tarikhnya,  menulis:  "Para  sahabat  r.a. sangat takut kepada
Umar dan tidak menemukan  orang  yang  melawan  pendapat  Umar
kecuali  Ali  ibn  Abi  Thalib,  yang  berkata:  "Barang siapa
melakukan tamattu',  ia  sudah  menjalankan  kitab  Allah  dan
sunnah  NabiNya."  Ketika  Ali  menegur  Utsman  yang melarang
tamattu', Utsman berkata: "Aku tidak melarangnya. Ini hanyalah
ra'yu   yang  aku  pegang.  Kalau  orang  mau,  silakan  ambil
ra'yu-ku. Kalau tidak, tinggalkan saja."
 
Umar juga diriwayatkan  berkata:  "Inilah  ra'yu  Umar.  Kalau
benar,  dari  Allah  dan kalau salah, dari Umar." Abdullah ibn
Mas'ud berkata seperti itu juga: "Aku  mengatakan  ini  dengan
ra'yuku.  Bila  benar, ia berasal dari Allah dan bila salah ia
berasal dari setan. Allah  dan  Rasul-Nya  terlepas  darinya."
Para  tabi'in  dari  Kufah  kelak  berguru kepada Abdullah ibn
Mas'ud, sehingga lahirlah mazhab Kufah  yang  menitik-beratkan
Fiqh  al-ra'y.  Sementera  itu,  Ali tetap tinggal di Madinah,
sebelum  ia  memindahkan  ibu  kota   ke   Kufah   pada   masa
kekhalifahannya.  Ketika  Utsman  melarang  menggabungkan haji
dengan 'umrah, ia menegur Ali: "Kau lakukan  itu  padahal  aku
melarangnya?"  Ali  menjawab:  "Aku  tidak  akan  meninggalkan
sunnah Rasulullah saw karena (ra'yu) salah  seorang  manusia."
Kita  pun  kemudian mengetahui bahwa di Madinah, daerah Hijaz,
berkembanglah madzhab Hijaz, yang menekankan Fiqh al-atsar.
 
Fiqh  al-ra'y  makin  diperteguh  dengan  kecenderungan   umum
madzhab  Umari  untuk  mengabaikan  penulisan  hadits. 'Aisyah
melaporkan: "Ayahku telah mengumpulkan 500  hadits  Nabi  saw.
Pada  suatu  pagi,  ia datang menemuiku dan berkata, "ambilkan
hadits-hadits yang ada padamu." Lalu saya  berikan  kepadanya.
Ia  membakarnya  dan  berkata:  "Saya khawatir, saya mati, dan
meninggalkan hadits-hadits itu padamu." Abu Bakar juga  pernah
mengumpulkan  orang  setelah  Nabi wafat, dan berkata: "Kalian
meriwayatkan dari Rasulullah saw.  hadits-hadits  yang  kalian
perselisihkan.  Nanti,  manusia  sesudahmu akan lebih daripada
itu. Janganlah meriwayatkan sesuatu pun dari  Rasulullah  saw.
Bila  ada  yang  bertanya  kepada kalian, jawablah: "Di antara
Anda dan  kami  ada  Kitab  Allah,  halalkan  yang  halal  dan
haramkan  yang  haram.".  Walaupun  begitu, periwayatan hadits
tetap   berlangsung   sampai   zaman   Umar.   Umar   menyuruh
mengumpulkan   hadits-hadits   itu   dan  memerintahkan  untuk
membakarnya. Alasan Umar: "Aku khawatir hadits-hadits itu akan
memalingkan orang dari Kitab Allah."
 
Tradisi    pengabaian   penulisan   hadits   --dan   sekaligus
pembakarannya--  dilanjutkan  oleh  tabi'in.  Rasul  Ja'farian
menyebutkan  nama-nama  ulama  tabi'in yang melarang penulisan
hadits, yaitu, Abu Burdah, Ashim, Abu Sa'id, Sa'id ibn Jubair,
Ibrahim  al-Nakha'i,  dan lain-lain. Al-Hasan ibn Abi al-Hasan
--menjelang  kematiannya--  memerintahkan  pembantunya   untuk
menyalakan  api  pembakaran.  Ke  dalamnya, ia lemparkan semua
tulisan, kecuali satu buku saja. Akibatnya, khusus di kalangan
ahl  al-Sunnah,  penulisan  hadits terlambat sekitar dua abad.
Konon, yang pertama kali melakukan tadwin  hadits  adalah  Ibn
Syihab al-Zahri atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz.
 
Sejarah  singkat  madzhab  'Umari  ini  menunjukkan  tiga ciri
khasnya: (1) madzhab ini memusatkan perhatian  utamanya  --dan
seringkali  dengan  mengabaikan  yang lain-- kepada al-Qur'an.
"Hasbuna Kitab Allah," kata Umar; (2) madzhab ini mengutamakan
ra'yu  ketimbang  al-Sunnah;  dan  (3)  madzhab ini menekankan
aspek  maqashid  syar'iyyah  atau  kemaslahatan   umat   untuk
menetapkan  hukum,  dan  kurang  terikat  pada zhawahir (makna
tekstual) dan nash. Untuk menangkis tuduhan bahwa Umar  sering
meninggalkan  nash-nash  al-Qur'an  secara sengaja, Abu Zahrah
menulis: "Tidak seorang sahabat  pun  meninggalkan  nash  demi
ra'yunya  atau  kemaslahatan  yang  dipandangnya. Sesungguhnya
maslahat yang difatwakan  sahabat  tidak  bertentangan  dengan
nash,  tetapi  mengaplikasikan  nash  secara baik, berdasarkan
pemahaman yang benar akan maksud-maksud syara'.
 
Di kalangan madzhab-madzhab ahl al-Sunnah,  fiqh  al-ra'y  dan
fiqh  al-atsar  ini  tidak  terpilah  tegas,  tetapi membentuk
kontinum.  Madzhab-madzhab  itu   berbeda   dalam   intensitas
penggunaan  nash  dan  ra'yu.  Ali Yafie melukiskannya sebagai
lingkaran-lingkaran:   "Lingkaran   paling   dalam   (pertama)
merupakan  kelompok  yang paling sedikit menggunakan ra'yunya.
Prinsip mereka dalam  pengambilan  hukum,  tak  memperkenankan
penggunaan  akal. Kaidah mereka: la ra'yu fi al-din (tidak ada
tempat rasio dalam agama).  Madzhab  yang  menggunakan  kaidah
semacam  ini  disebut  madzhab  al-Zhahiri, karena diprakarsai
Dawud al-Zhahiri yang  dilanjutkan  Ibn  Hazm  dalam  kitabnya
al-Muhalla.  Disadari  atau tidak, madzhab ini sebenarnya juga
menggunakan  rasio.  Hanya  intensitas  penggunaannya   sangat
sedikit.
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s