Pondok Pesantren Riwayat Mu Kini

Dalam beberapa minggu terakhir ini di televisi hampir setiap 3 jam sekali ditayangkan sebuah iklan Pemerintah, khususnya Mendiknas, yang tiada jenuhnya mempromosikan SMK sebagai salah satu solusi untuk menghadapi era globalisasi. Sebuah tayangan yang penuh dengan multi interpretasi bagi para pendidik, khususnya bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, disaat keadaan bangsa ini tengah dilanda dekadensi moral di berbagai bidang, justru aspek budipekerti atau akhlak sama sekali tidak dianggap sebagai “keadaan darurat”. Saya tentu dapat sedikit memahami munculnya tayangan iklan tersebut. Mungkin dibenak saya ada pemikiran yang menyebutkan bahwa rendahnya kualitas serta kompetensi calon tenaga kerja Indonesia disebabkan karena tidak adanya pendidikan yang memang khusus mempersiapkan anak didik untuk dapat terjun ke lapangan pekerjaan. Namun di lain sisi pola pikir tersebut juga saya anggap sebagai pola pikir yang bermentalkan “kuli”. Bagaimanapun kita tahu seberapa “expert” anak-anak lulusan SMK di Indonesia secara umum. Tawuran adalah salah satu produk andalannya.

Sesungguhnya saya bukanlah orang yang “iri” terhadap SMK yang mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah, atau dapatlah dikatakan sebagai anak kesayangan Depdiknas saat ini. Namun berdasarkan UU Sisdiknas yang sudah kita fahami bersama, alangkah adilnya apabila semua jenis pendidikan di tanah air ini mendapatkan porsi perhatian yang sama. Tanpa adanya kesetaraan perlakuan dari Pemerintah, pada akhirnya yang muncul adalah ketidakpuasan atas hal-hal tersebut.

Pondok Pesantren secara umum mengkhususkan untuk mengaplikasikan kependidikannya di bidang agama, dalam jenjang MTs,MA, serta  Sekolah Tinggi Agama dibeberapa Pondok Pesantren. Hasil didikan dari setiap Pondok Pesantren pun sesungguhnya harus mendapatkan kesetaraan perhatian dari Pemerintah.Toh,alumni dari Pondok Pesantren pun masyarakat Indonesia yang dilindungi hak dan kewajiban edukasi nya di dalam UUD 45. Semestinya model iklan layanan masyarakat seperti itu tidak perlu karena hanya menimbulkan “luka” serta ketidakadilan bagi sekolah lainnya, wa bil khusus Pondok Pesantren.

Wallahua’lam bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s