Libur Lebaran 1430 H

“Ritual” tahunan bagi sebagian besar kaum urban di Indonesia hampir tiba. Menjelang tibanya hari lebaran sebagian besar masyarakat perantauan telah bersiap untuk menunaikan misi khusus nan “suci”, yakni mudik. Mudik-atau dapat diartikan kembali ke udik/kampung- memang menjadi primadona perbincangan di setiap penghujung bulan Ramadhan, baik diperbincangkan oleh mereka yang memang tengah kehausan dan kelaparan karena sedang berpuasa, atau justru sedang di “bahtsul masail” kan oleh mereka yang menurut kanjeng Syekh Siti Jenar sebagai kaum abangan, yang justru tengah bermusyawarah untuk menentukan menggunakan alat transportasi apa,mana, dan bagaimana, sambil tidak lupa menyeruput secangkir kopi pahit dan memainkan sepuntung rokok di jentik-jentik jemarinya yang hitam legam di siang bolong dengan wajah serius layaknya para pimpinan KPK yang saat ini sedang diperiksa oleh Polri.

Nun jauh di sana, saudara-saudara kita di negeri jiran, Malaysia, pun tidak ingin ketinggalan momentum “romantis nan syahdu” untuk bermudik ria ke kampung halamannya. Seolah ingin melupakan barang sekejap “api neraka” yang setiap hari siap membakar tubuh mereka di perantauannya, kerana mereka kerap di cap sebagai Indon. Ya, Indon yang identik dengan kriminal dan pelanggaran hukum di negeri seberang sana. Pun demikian, tidak ada setitik niat pun dari mereka untuk tidak kembali lagi ke negeri jiran tersebut setelah habis semua oleh-oleh yang mereka bawa untuk handai taulan di udik. Pepatah usang yang mengatakan ” Hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari pada hujan emas di negeri orang” nampaknya telah menjadi pepatah yang tidak realistis di zaman serba komputer saat ini.

Kereta, pesawat, bis, mobil carteran, kapal laut dapatlah diibaratkan sebegai “shirotul mustaqim” bagi para pemudik. Sebuah jembatan penghantar yang akan mengantarkan mereka ke surga kampung. Surga dunia yang tidak jelas betul defenisinya, karena di surga dunia itu semuanya serba bayar, berbeda sekali dengan surga yang dijanjikan oleh Allah SWT, yakni serba gratis.  Kampung yang biasanya hanya dihuni oleh para orangtua lusuh, anak-anak ingusan, serta pemuda-pemudi korban mode, berubah drastis menjadi “kota” yang penuh dengan atribut-atribut ibukota. Handphone keluaran terbaru akan kita lihat bergelantungan di kuping-kuping orang yang ada di kampung. Dapat kita pahami, bahwa proses stratifikasi sosial berjalan secara abnormal dan tidak sesuai dengan teori.

Lukisan kemacetan, riuh rendah tawa canda pemudik, semuanya itu tidak mungkin didengar dan dirasakan secara “live” layaknya menonton siaran langsung liga Inggris. Bukan karena tidak mau mendengar, dan tidak mau melihat, tapi karena memang penulis tidak mungkin mengikuti tradisi nan “suci” tersebut, karena memang penulis tidak punya kampung untuk dimudiki!!!!!!

Selamat mudik……selamat berlebaran….selamat bersilaturahmi…semoga selamat sampai tujuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s