Miyabi oh Miyabi

Protes mu keras kritikan mu boleh pedas

Oowoow

Tapi koq laku keras

Protes mu keras kritikan mu boleh pedas

Oowoow

Diam-diam juga doyan……

Di atas merupakan sepenggal lyric lagu di awal tahun 90-an yang dilantunkan oleh duo kribo, yakni Gito Rollies dan Dedy Stanzah. Nama yang pertama, sebagaimana diketahui dipenghujung hidupnya telah mendapatkan hidayah dari Allah SWT sehingga meninggal dalam kondisi yang baik (Insya Allah).

Menyimak isu politik yang disertai dengan bungkusan entertainment saat ini, mungkin semua sepakat untuk mengikuti perkembangan jadi atau tidaknya kedatangan Miyabi. Kedatangan Miyabi dianggap sebagai salah satu icon Syetan atau bahkan Dajjal yang hendak merusak tatanan moral serta akhlak masyarakat Indonesia, demikian anggapan ormas Islam yang menentang kedatangan “Hot Star” tersebut.

Kedatangan Miyabi yang direncanakan tanggal 14 Oktober tersebut, terasa sangat mendekati momentum pelantikan Presiden dan Wapres yang akan dilaksanakan tanggal 20 Oktober. Apakah ada agenda tersembunyi dari rencana kedatangan artis tersebut, tentunya sulit untuk dibuktikan namun terasa dalam pikiran.

Kondisi keamanan Indonesia, khususnya Jakarta yang cukup aman pasca bom marriot jilid II, tentu akan sedikit terganggu dengan aksi penentangan tersebut. Namun yang agak sedikit mengherankan, sampai detik ini belum ada tanggapan resmi dari pihak Kepolisian R.I berkaitan dengan kedatangan artis tersebut yang sangat mungkin menimbulkan gejolak di masyarakat. Aparat keamanan, dalam hal ini polisi atau bahkan pihak imigrasi secara legal dimungkinkan untuk melarang datangnya sesorang yang dianggap akan menimbulkan gejolak sosial, terlebih lagi momentumnya sangat bersinggungan dengan pelantikan Presiden dan Wapres.

Penulis menyadari bahwa, persoalan pornografi menjadi persoalan yang serba “abu-abu”, khususnya bila dikaitkan dengan gender kelaki-lakian. Saat ini justru yang berteriak cukup lantang adalah ormas-ormas yang didominasi oleh kaum Adam, seperti FPI, dan forum mahasiswa. Lalu penentangan ini pun menjadi akan sedikit menjadi bumerang yang cukup menyudutkan para penentang tadi, apakah benar orang-orang atau kelompok-kelompok tersebut benar-benar bersih dari segala urusan pornografi? Tentu pertanyaan yang sulit untuk dijawab secara jujur.

Menurut hemat penulis, seharusnya pihak atau kelompok yang melakukan penentangan secara total adalah mereka para kaum Hawa. Kaum perempuan akan sangat lebih netral dan objektif menyikapi hal eksploitasi gender mereka. Sepantasnya ormas perempuan seperti Komnas Perempuan, Aisyiah, Muslimah dan lain-lain bersuara lantang untuk hal tersebut. Nada-nada sumbang akan sangat minim jika mereka bersuara. Tidak ada ungkapan “maling teriak maling:, atau “diam-diam juga doyan”, karena secara umum kaum perempuan tidak begitu menikmati tayangan-tayangan pornografi yang vulgar, namun mereka lebih menyukai tayangan-tayangan yang berbalut romantisme. Ini suatu kenyataan yang sulit terbantahkan.

Jika selama ini kita menyaksikan kajian-kajian agama yang mempersoalkan poligami, warisan, yang cenderung menguntungkan kaum laki-laki, mengapa saat ini para cendikiawan muslim perempuan tidak terdengar suaranya, padahal persoalan ini sangat menginjak-injak martabat keperempuanan.

Akhirul kalam….penulis (bukan dalam arti sok suci atau sejenisnya) hanya bisa mengatakan jika melihat-persoalan tersebut dengan ucapan:

Aku ingat ibu ku….

Aku ingat istri dan anak perempuan ku….

(Iwan Fals)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s