PSSI ku sayang, PSSI ku malang

Di akhir bulan Maret 2010 ini, perhatian masyarakat Indonesia terpecah ke dalam berbagai persoalan. Mulai dari Ujian Nasional (yang kabarnya pelaksanaan terakhir, sebelum diganti dengan model lain), muktamar NU, riuh rendah politik di pemerintah, sampai dengan pelaksanaan Kongres  Sepak bola Nasisonal (KSN) yang akan dilaksanakan di Malang Jawa Timur.

Sepak bola, yang diyakini sebagai cabang olahraga termasyhur dan terbanyak penggilanya, merupakan cabang olahraga yang “serbaguna” atau “serba manfaat”. Mengapa? Dengan sepak bola ikatan emosi sekian puluh ribu atau bahkan jutaan penggilanya dapat disatukan, yang selanjutnya menjadi kekuatan sumber financial yang luar biasa. The other side, sepak bola juga dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Bukan rahasia lagi, bahwa maju nya prestasi sebuah klub di Indonesia hampir dapat dipastikan tergantung apakah ada political will dari kepala pemerintahan atau tidak.  Juara dan terdegradasinya sebuah klub digantungkan kepada besarnya APBD yang digelontorkan. Celakanya, “politisasi” sepak bola tidak berhenti sampai disitu, namun juga dapat membuat ajang korupsi bagi para pengurus sepak bola yang mengatasnamakan prestasi klub kebanggaan daerah. Hal-hal seperti ini tentunya sangat bertentangan dengan semangat olahraga itu sendiri.

Kongres Sepak bola Nasional adalah sebuah terobosan baru untuk memperbincangkan nasib sepak bola tanah air kita. Lebih dari 200 juta penduduk di negeri ini, ternyata belum mampu menelurkan 11 pemain sepak bola hebat. Miskin prestasi merupakan nuansa yang sudah mendarahdaging bagi organisasi sepak bola yang bernama PSSI. Tentu rakyat Indonesia “rela” uang APBN terkuras untuk membiayai sepak bola, apabila memang dikelola dengan baik dan berprestasi. Namun sayangnya, milyaran atau bahkan trilyunan rupaih yang telah dikucurkan belum mampu melahirkan prestasi lagi, walaupun untuk tingkat ASEAN saja.

“Kesalahan” tentu kata yang harus disandarkan atau “diidopatkan” kepada seseorang. Untuk itulah kita berdebat untuk mencari “korban” / “kambing hitam” untuk “diidopatkan” kepada kata “kesalahan” tadi. Tidak pahamnya orang-orang yang diberi wewenang mengurus sepak bola adalah kata kunci yang harus disepakati. Seperti semboyan salah satu calon Gubernur (yang saat ini telah menjabat) “Serahkan kepada ahlinya”, begitu pun harusnya dalam mengelola sepak bola.

Nurdin Halid (NH) adalah sosok yang sebenarnya dapat saya katakan sebagai penggila sepak bola. Saya masih ingat pada waktu NH masih mengurus PSM Makassar di era 90 an. Namun nampaknya menggilai sepak bola saja masih belum cukup untuk mengawal serta mengorganisir PSSI secara baik. Tidak ada prestasi yang mencuat di masa kepemimpinannya bahkan sangat terpuruk. Kegagalan demi kegagalan terus menghampiri persepak bolaan kita. Inilah yang menjadi sebab semakin “geregetan” nya sebagaian pecinta sepak bola (baik yang ngerti maupun sok ngerti) untuk menggelar KSN. Misi menggusur NH sudah dikembangkan, dan pantang untuk disurutkan. Ancaman FIFA yang mungkin saja dijatuhkan pun sudah diantisipasi dengan ucapan “… tidak masalah jika FIFA menghukum Indonesia selama 2 tahun, toh selama 2 tahun ke depan Indonesia tidak akan melangsungkan pertandingan internasional yang penting…”. Kalau sudah seperti ini kelihatannya hanya ada satu kata bagi NH yakni “LAWAN”!!!.

Bagi kita pencinta sepak bola, tidak penting sosok mahluk dari mana yang akan memimpin  PSSI kita, yang terpenting adalah prestasi dapat diraih!!!!!!!!

Selamat berkongres para “penggila” sepak bola nasional. Semoga sepak bola Indonesia dapat jaya seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s